Penulis: Akhlil Fikri Idham | Jurnalis yang suka lupa kata sandi dan mencoba tanggal lahir sebagai password

Ada satu pesan dari Kapolres Lingga, AKBP Ahmad Andi Suryadi, yang rasanya tidak hanya ditujukan kepada orang tua yang anaknya sedang bermasalah.

Pesan itu justru cocok ditempel di kepala kita semua yang punya anak masih di bawah umur atau masih berstatus pelajar.

Awasi penggunaan smartphone anak.

Sederhana, tetapi ternyata tidak sesederhana itu melakukannya.

Apalagi sekarang smartphone sudah seperti teman seperjalanan anak. Untuk belajar iya, untuk mencari hiburan iya, untuk berkomunikasi iya. Sayangnya, pintu menuju hal-hal negatif juga ada di benda yang sama.

Pesan itu disampaikan Kapolres Lingga saat konferensi pers terkait kasus penganiayaan dan perbuatan asusila terhadap seorang pelajar perempuan di bawah umur.

Dalam kasus tersebut, korban diduga dianiaya oleh pacarnya. Polisi juga menemukan video bermuatan asusila yang berkaitan dengan korban dan tersangka.

Mendengar kasus seperti ini, Kapolres tidak hanya bicara sebagai polisi.

Ia bicara seperti seorang ayah kepada orang tua lainnya.

“Sebagai orang tua saya merasakan seandainya anak kita diperlakukan seperti ini, bagaimana perasaan orang tua,” kata AKBP Ahmad Andi di Mako Polres Lingga pada Jumat (25/9/2026).

Kalimat itu barangkali membuat kita berhenti sebentar.

Sebab selama ini membaca kasus kriminal memang mudah. Kita membaca kronologi, nama tersangka, barang bukti, lalu menggulir layar ke berita berikutnya.

Tetapi bagaimana kalau anak kita yang menjadi korban?

Pertanyaan itu tentu jauh lebih berat.

Karena itulah Kapolres mengimbau orang tua agar mengawasi penggunaan handphone anak dan mengarahkannya untuk kegiatan positif. Ia juga mengingatkan agar anak tidak terjerumus ke judi online maupun aktivitas negatif lainnya.

Masalahnya, mengawasi anak sekarang tidak cukup hanya dengan bertanya, “Sudah belajar?”

Kadang perlu juga bertanya, “Tadi lihat apa di HP?”

Bukan untuk menjadi polisi di rumah, tetapi untuk memastikan anak tidak berjalan sendirian di dunia digital yang bahkan orang dewasa pun kadang tersesat di dalamnya.

Anak diberi HP, orang tua jangan cuma tahu mereknya.

Jangan cuma tahu paket internetnya habis tanggal berapa.

Jangan sampai orang tua hafal harga HP anak, tetapi tidak tahu siapa yang sering menghubungi anaknya.

Sebab, kata Kapolres, kalau sesuatu yang buruk sudah terjadi kepada anak, penyesalan biasanya datang belakangan.

“Kalau sudah terjadi terhadap anak kita, kita sebagai orang tua yang disalahkan,” ujarnya.

Mungkin ini bukan ajakan untuk menyita smartphone anak.

Bukan pula berarti anak harus diawasi setiap detik.

Pesannya lebih sederhana, hadirlah dalam kehidupan digital anak.

Tanyakan.

Dengarkan.

Awasi.

Dan buat anak merasa aman untuk bercerita.

Sebab smartphone memang semakin pintar.

Tetapi anak-anak tetap membutuhkan orang tua yang lebih peduli daripada algoritma.

Dan kalau boleh sedikit bercanda, anak jangan sampai lebih dekat dengan WiFi daripada dengan orang tuanya sendiri.


Disclaimer: Tulisan ini merupakan curhatan penulis, bisa fiksi ataupun kisah nyata.
Kirim Tulisan: Punya opini, cerita, atau gagasan menarik yang ingin dibagikan? Kutipan membuka ruang bagi kamu untuk berkarya. Kirimkan tulisan terbaikmu dan jadilah bagian dari suara publik! Hubungi kami melalui WhatsApp di 0811-7776-644 atau email kutipan.co@gmail.com.

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch

Similar Posts